Writing

SINERGI POLA DERMA DI MASA PANDEMI

Abdurrahman bin Auf  sangat sedih mendengar kabar bahwa Rasulullah Muhammad SAW mengatakan bahwa dirinya bila masuk surga menjadi orang yang terakhir karena hisab atas kekayaannya yang luar biasa. Segala cara dilakukan agar dirinya jatuh miskin. Termasuk melakukan transaksi yang dianggap gila, yakni membeli kurma busuk yang mustahil bisa laku terjual. Kemiskinan nyatanya justru menjauh dari kehidupan Abdurrahman bin Auf, alih-alih bangkrut, beliau malah makin kaya raya karena pemerintah negeri Yaman justru membeli kurma busuk yang mengalami fermentasi alamiah dengan harga berlipat dari harga kurma segar sebagai bahan ramuan obat-obatan di tengah endemi yang melanda negeri itu.

Terlepas dari keshahihan perawi cerita di atas, namun seingkali dijadikan narasi untuk memotivasi orang bahwa tindakan berderma tidak akan membuat orang jatuh dalam kemiskinan. Dalam Surat Al-Baqarah ayat 261 Allah SWT memberikan jaminan bahwa, “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang dia kehendaki. Dan Allah maha luas (karunia-Nya) lagi maha mengetahui.”

Tradisi untuk menyumbang sebagai bentuk kedermawanan sosial atas kehidupan orang lain yang membutuhkan sejak lama di kenal di Indonesia. Di Jawa Barat dikenal “Beas Perelek” atau Beras Jimpitan di Jawa Timur . Keduanya merupakan budaya berbagi beras yang bertujuan untuk mengantasipasi adanya krisis pangan di masyarakat. Praktek berbagi yang kini mulai menghilang tersebut sebetulnya sangat relevan dengan kondisi pandemi yang meluluh lantakkan hampir semua sektor yang berdampak pada menurunnya pendapatan, membuat sebagian warga masyarakat kesulitan untuk memperoleh kebutuhan pangan, berbagi beras tersebut menjadi salah satu kegiatan yang bisa menumbuhkan semangat berbagi di era baru.

Di komplek saya misalnya, sejak adanya kasus positif Covid-19 terkonfirmasi, beas perelek mulai digalakkan kembali. Setiap hari Sabtu, penjaga masjid atau Marbot akan berkeliling ke rumah warga untuk mengambil beras sekaligus kotak sumbangan uang (kencleng) yang sebelumnya sudah dibagikan. Sesuatu yang sederhana ini menjadi sangat berguna ketika sudah terkumpul. Hasilnya, selain untuk keperluan warga, juga bisa disalurkan untuk kebutuhan warga sekitar. Keluarga yang sedang melakukan isolasi mandiri sudah tidak perlu lagi khawatir akan ketersediaan pangan atau kebutuhan lainnya. Pihak RT beserta satgas dan warga komplek bahu membahu untuk senantiasa memenuhi kebutuhan keluarga yang sedang karantina. Semangat berbagi di era baru seperti saat ini sangat dibutuhkan, apalagi bagi keluarga yang positif. Bantuan kita menjadi dukungan yang dapat memulihkan, baik fisik maupun mental. Beas perelek ini merupakan simbol gotong royong yang menjadi salah satu ciri khas bangsa Indonesia dan menggalakannya berarti merawat tradisi.

3 Konsep Berderma

Dalam Agama Islam dikenal adanya 3 konsep tentang berderma yakni Zakat, Infaq dan Shodaqah. Pembeda ketiganya terletak pada ketentuan dan kewajiban untuk mengeluarkan. Jika shadaqah dan infaq tidak ditentukan secara pasti berapa jumlah yang harus dikeluarkan, zakat dibatasi oleh peraturan-peraturan pada saat kita akan mengeluarkannya. Seperti halnya rukun Islam lainnya, zakat merupakan kewajiban yang harus ditunaikan oleh semua muslim juga ada syarat dan rukun yang harus dipenuhi. Penerima zakat yang disebut dengan Mustahiq pun sudah ditentukan kategori penerimanya dalam delapan golongan (asnaf). Zakat terdiri dari dua jenis, yaitu zakat fitrah dan zakat maal. Zakat fitrah merupakan zakat yang dikeluarkan pada saat bulan Ramadhan dan didistribusikan sebelum pelaksanaan sholat Idul Fitri, sedangkan zakat maal dilakukan satu tahun satu kali terhadap harta yang dimiliki setelah mencapai nisab. Pengumpulan, pengelolaan dan pendistribusian zakat haruslah mendasarkan pada prinsip prioritas dengan memperhatikan asas pemerataan, keadilan, dan kewilayahan.

Sumber: Outlook Zakat Indonesia 2020 – Puskas BAZNAS

Zakat sejatinya merupakan instrumen ekonomi untuk menanggulangi kemiskinan. Dalam zakat terkandung  mekanisme transfer redistribusi pendapatan dari kalangan pembayar zakat kepada fakir miskin. Tidak berlebihan bila zakat merupakan solusi mengatasi kemiskinan mengingat potensi sumberdaya/resources penerimaan zakat sedemikian besar bila melihat jumlah umat islam. Di Indonesia saja, berdasarkan kajian Indeks Pemetaan Potensi Zakat oleh Badan Amil Zakat Nasional tidak kurang dari  233 Triliun rupiah atau mencapai 3 persen dari pendapatan domestik brutto (PDB) Indonesia. Namun pengumpulan zakat baru mencapai 8,2 Triliun rupiah atau sebanding 3.4 persen dari potensi pengumpulan zakat secara nasional. Potensi yang fantastis tersebut tentu sangat powerfull untuk mengurai problem kemiskinan di Indonesia yang saat ini diperkirakan memiliki 26,42 juta orang penduduk yang masuk kategori miskin berdasarkan laporan Biro Pusat Statistik.

Berdasarkan Undang-Undang No.23 tahun 2011, Badan Amil Zakat Nasional (BASNAZ) merupakan lembaga yang diberi wewenang untuk melakukan pengelolaan zakat di tingkat nasional yang memiliki cabang hingga di tingkat kabupaten di seluruh Indonesia. Operasiol BAZNAS melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan Hak Amil. Sedangkan BAZNAS provinsi dan BAZNAS kabupaten/kota dibiayai Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) dan Hak Amil, serta juga dapat melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara.

Adapun masyarakat dimungkinkan mendirikan lembaga Lembaga Amil Zakat (LAZ). Pembentukan LAZ wajib mendapat izin Menteri atau pejabat yang ditunjuk oleh Menteri. LAZ wajib melaporkan secara berkala kepada BAZNAS atas pelaksanaan pengumpulan, pendistribusian, dan pendayagunaan zakat yang telah diaudit syariat dan keuangan seperti halnya yang dilakukan oleh Yayasan Ukhuwah Care Indonesia yang selanjutnya disebut dengan LAZ UCare Indonesia, didirikan dengan akta Notaris No. 01 pada tanggal 03 Oktober 2017. Izin operasional sebagai Lembaga Amil Zakat tingkat Kota Bekasi No. 1312 Tahun 2018 dari Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Barat diperoleh pada tanggal 30 Agustus 2018. Adapun fokus kegiatannya adalah mengelola dana zakat, infaq, shodaqoh dan dana sosial lainnya, termasuk dana tanggung jawab sosial perusahaan (Coorporate Social Responsibility)

Sumber: Outlook Zakat Indonesia 2020 – Puskas BAZNAS

Keberadaan organisasi yang melakukan fungsi pengumpul zakat di satu sisi menjadi pelengkap atas keterbatasan lembaga negara yang bisa menjangkau hingga pelosok di tanah air, namun di pihak lain memungkinkan adanya persaingan strategi penggalangan zakat. Bahkan beberapa organisasi memiliki sumber daya manusia dan keuangan yang melintasi wilayah geografis tempat lembaga pengumpul zakat lainnya. Pada titik tersebut perlu perangkat aturan agar masing-masing lembaga pengumpul zakat tidak saling berkompetisi.  Sinergi antar lembaga menjadi krusial agar potensi pola derma yang ada di masyarakat dapat dioptimalkan.

LAZ sebagai organisasi yang bertunas di komunitas perlu memiliki integrasi data penerima manfaaat bersama BASNAZ agar dapat melakukan fungsi pengelolaan, terutama distribusi menjadi lebih sistematis dan efektif. Antar lembaga perlu membuat inovasi pengelolaan zakat tidak semata-mata bersifat karitatif namun juga membuat manfaat zakat menjadi instrumen yang mendorong aspek produktif.

Sumber: Facebook LAZ UCare

Tulisan ini diikutsertakan dalam rangka Lomba Blog LAZ UCare Indonesia 2020.

Share This: