Diary

Berjalan Kaki di Terik Jakarta? Siapa takut!

Ada kalanya, sering bahkan, apa yang terjadi di luar harapan kita, biasanya mendadak dan tidak direncanakan. Jika dalam posisi itu, kita tentu saja tidak bisa lari, tak bisa menghindar, dan harus tetap dihadapi serta dijalani.

Sejak hp hilang beberapa waktu lalu, saya memakai hp lama yang kondisinya harus “disayang” banget. Anak saya selalu mengingatkan “Mama, nge charge hp ini jangan dibawah 60%, klo ga, ga bakalan bisa nyala”. Saya sudah menjalankan protokol itu, setiap sudah 60% atau 70%, saya charge dan aman. Tadi juga sama, begitu 60% langsung saya charge.

Pagi tadi, jadwal saya sosialisasi di salah satu RW di Pondok Labu yang berada di kawasan TNI AL. Sampai sana, hp masih terkendali meski sudah nyantol ke power bank. Harapannya setelah berdiskusi dan tim bergerak, hp sudah terisi penuh dan saya bisa kembali ke kantor di Antasari dengan aman dan cepat menggunakan ojol. Ndilalah, setelah kegiatan usai, daya hp bukannya nambah malah melorot turun dan turun. Saya coba nyalakan, bisa hidup, tapi begitu buka aplikasi, hp nya kedip-kedip dan blip, mati. Mulai panik. Tapi berusaha sejaim mungkin sambil berpikir keras, secara ga ada angkutan umum lewat dan jalan keluar komplek lumayan panjang. Untungnya salah satu tim bergerak ke RW lain. Sementara, kondisi oke, saya bisa ikut sampai jalan raya. Saya buying time dengan makan soto dulu -kebetulan juga belum sarapan-. Perut kenyang, lumayan otak bisa diajak berpikir lagi. Sebelum nyalakan hp, saya masuk mini market beli sesuatu biar ga terlalu malu numpang duduk di terasnya. Bismillah, hp saya coba nyalakan. Baru 17%. Begitu buka aplikasi ojol, lagi-lagi blip, mati. Haduh! Sebelum kebingungan merajai, saya melihat bus Transjakarta jurusan Pondok Labu – Lebak Bulus berhenti tepat depan mini market. Tanpa berpikir lagi, saya langsung naik dan duduk manis. Hp saya simpan di tas, semoga sampai perempatan Fatmawati sudah cukup terisi baterainya. Saya turun di pinggir jalan Fatmawati tepat di bawah tanda “Bus stop Transjakarta”. Untuk kesekian kalinya saya coba lagi nyalakan hp. Tetap tak bekerja. Saat itu, pilihannya cuma dua, nunggu tanpa berkegiatan hingga baterai terisi setidaknya 50% dan itu butuh waktu sekitar satu jam, atau jalan kaki sampai kantor, waktu yang dibutuhkan tidak banyak, dan hp bisa segera dicharge ke listrik langsung tanpa harus menggunakan power bank.

Menimbang efisiensi waktu, saya pilih opsi ke-2. Sebetulnya berjalan kaki menjadi kegiatan yang sangat lumrah dilakukan. Di luar negeri apalagi, setiap pagi, akan lebih banyak dijumpai orang-orang pejalan kaki dibanding macetnya jalan raya karena kendaraan. Tapi di Jakarta, dengan udara yang luar biasa dan polusi dimana-mana, jalan kaki tidak selalu bisa jadi pilihan kecuali kepepet, seperti saya tadi.

Bersyukur semesta mendukung, dengan mendung yang memayungi, saya bisa berjalan kaki dengan sangat nyaman. Saya menikmati setiap langkah yang diayun. Seketika saya membayangkan ketika suatu saat berjalan dari Hotel Renaissance 999 9th St NW, Washington, DC 20001 menuju American Red Cross 430 17th St NW, Washington, DC 20006 yang jaraknya lebih dari 1,5 km setiap pagi dan sore hari. Di sana, trotoar yang luas sangat memanjakan para pejalan kaki tanpa harus mendengar deru kendaraan dan bunyi klakson yang bersahutan. Sepanjang jalan dapat melihat gedung-gedung kontemporer yang megah. Melewati National Mall, mata tak bosan disuguhi bangunan-bangunan dengan arsitektur yang menawan, seperti White House, Washington Monument, dan United States Capitol dengan udara yang segar, dingin-dingin sejuk.

Jalanan lengang di pagi hari

Hmmm, ya. Di jalur yang saya jejaki inipun, di Jakarta, Ibukota negara tercinta, trotoar sudah dibuat dengan lebar dan ramah untuk pejalan kaki. Sayang saya tidak bisa mendokumentasikan melalui gambar, karena hp nya mati. Saya bisa mencermati sekeliling jalur Perempatan Fatmawati – Antasari. Gedung-gedung mentereng nan modern juga terpampang nyata di kanan kiri jalan. Di sebelah kiri, saya melewati beberapa gedung menjulang. Setelah lewat lampu merah Fatmawati, terlihat Bank Capital yang berada di pojok jalan, setelahnya melewati Halte Fatmawati, sebelahnya lagi ada gedung D’Brasco, The CEO Building, juga gedung Graha Sapta Indra. Berjalan menjauh ketemu Cilandak Town Square (Citos) yang sepanjang trotaoarnya akan mudah ditemukan penjual kopi keliling, beberapa driver ojol dan taksi telihat sedang beristirahat sembari menunggu notifikasi orderan. Ibis Style berdiri megah tepat di sebelah Citos, setelahnya telihat tower Midtown Residence yang berdampingan dengan Talavera Office Park.

Di seberang jalan menjulang gedung JGC, terlihat juga CIBIS park. Sambil mengayunkan langkah saya bisa memandangi kendaraan yang lalu lalang, dari mulai taksi, ojol, busway, angkot, mobil dengan berbagai brand, mulai dari brand sejuta umat hingga mobil keluaran baru yang high end. Semakin bergerak, tak terasa saya mulai berbelok ke arah Jl. Antasari, menyusuri trotoar yang melingkari gedung Alamanda. Di kejauhan terlihat bersahaja gedung 165 tower, Ratu Prabu 2 dan juga gedung Elnusa. Yeay! Itu artinya, kantor saya sudah berjarak sekitar 200 meter lagi di depan, di tanjakan sebelum jembatan penyeberangan orang (jpo) sana. Gerimis mulai menggoda, tetapi tak lama. Baru saja mengeluarkan payung, ia mereda. Tepat 20 menit, sayapun sampai kantor dengan selamat. Bisa menaklukan jarak lebih dari satu kilo jalanan Jakarta. Selamat badan, selamat uang. Bisa hemat 15ribu. Alhamdulillah. Percayalah! Selalu ada blessing in disguised dalam setiap kejadian yang tidak kita inginkan.

Jika diingat ingat, ini adalah jalan kaki terjauh saya selama di Jakarta. Sebelumnya hanya berjarak Balai Kota – Stasiun Gondangdia, atau dari Jl. Bhineka Raya – Jl. Biru Laut. Tapi klo urusan jalan, memang selalu menyenangkan. Perjalanan paling berkesan terjadi belasan tahun yang lalu saat saya hiking dari Dago Pakar hingga Maribaya bersama teman sekos. Itu asli, seru pakai banget. Klo diajak lari saya menyerah -apalagi klo lari dari kenyatan-. Tapi klo diajak jalan apalagi jalan-jalan, siapa takut! Yuk! Ah! Kita come on!

Berjalanlah terus ke depan hingga sampai ke tujuan
Share This:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *