Diary

Diary

Bebaskan Harimu, Serukan Duniamu dengan By.U

Anak yang beranjak remaja, apalagi laki-laki, kadangkala melakukan #SemuanyaSemaunya sendiri tanpa perencanaan dan tanpa memperhatikan resiko. Selama yang dilakukan menyenangkan buat dirinya, akan dijalani tanpa berpikir panjang. Hal ini dipengaruhi oleh adanya perubahan fisik dan psikis yang terjadi pada remaja.

By.U & Generasi Z

Anak laki-laki pertama saya yang berusia 12 tahun suka sekali menonton Youtube. Sebagai generasi Z, sepertinya saat ini uang jajan sudah tidak jadi prioritas. Selama kuota internet penuh di ponselnya, duniapun aman baginya.

Hadirnya by.U membawa warna tersendiri diantara beragam provider yang ada. Dari taglinenya, Provider Serba Digital, Provider ini cocok sekali untuk generasi muda sebaya anak saya yang kecenderungannya menjadi generasi lazy mind. Berkeinginan serba mudah dan cepat tanpa harus banyak bergerak. Bayangkan saja! Cukup sambil rebahan, hanya dengan menggunakan kaos oblong sama celana pendek, para boys dan girls kesayangan sudah bisa mendapatkan nomor cantik di website resmi by.U https://www.byu.id/id atau aplikasinya https://jalantikus.com/apps/by-u/ , minta bayarin orangtua, tunggu deh kartu nya tiba di rumah. Sesimpel itu. O, iya, jangan sampai lupa, sebelum sim card by.U digunakan harus diregistrasi lebih dulu. Langkah-langkah registrasinya bisa dilihat di sini ya https://jalantikus.com/tips/cara-registrasi-kartu-byu/.

Build Your Own Plan (BYOP)

Beberapa tahun yang lalu, saat si bujang belum memiliki ponsel sendiri, jika ingin menonton Youtube, dia akan meminjam ponsel saya. Kebetulan saya menggunakan salah satu provider pasca bayar waktu itu. Setiap bulannya, maksimal saya membayar 250 ribu rupiah. Namun pada saat liburan panjang akhir tahun di kampung halaman, dengan sinyal yang mati segan hidup tak mau, ternyata sangat mempengaruhi kuota yang terpakai. Di akhir bulan, saya kaget luar biasa, karena tagihan mencapai 1 juta lebih. Lunglai saya, kuota yang tidak terencana bisa menjebak jika tidak hati-hati.

Dengan menggunakan by.U, saya sudah tidak khawatir lagi. Semua paket lengkap, mau pakai jumlah kuota maupun unlimited tersedia. Tinggal pilih sesuai dengan kebutuhan dan anggaran yang dimiliki, buka aplikasi, bayar, kuotapun lancar. Langsung cek deh harga-harga paketnya https://jalantikus.com/tips/daftar-harga-paket-internet-byu/ .

Tak Takut Habis Kuota

Kini, Si Sulung bebas nonton Youtube sepuasnya. Internet lancar tanpa gangguan sinyal dan kuota yang terbatas. Tak ada lagi hari-hari rusuh karena kuota habis. Dengan menggunakan Paket 1,5 Mbps unlimited, anak saya bisa online seharian, bebas #SemuanyaSemaunya, mulai dari main game, nonton youtube, hingga mengerjakan tugas pembelajaran jarak jauh (PJJ). Hanya dalam waktu kurang dari 15 menit, sudah bisa mengunduh data ratusan Mega Byte (MB). Untuk ukuran anak saya, kecepatan ini sangat layak, dia bisa menggugah tugas PJJ nya dalam waktu singkat, meskipun dalam bentuk video.

Paket 1,5 Mbps unlimited ini tak hanya cepat, tetapi tidak dibatasi jumlah kuota. Hal ini yang membuat anak saya nyaman dalam menggunakannya, karena dalam waktu 30 hari, dia akan anteng dengan ponselnya tanpa harus merengek setiap minggu setiap hari minta diisi kuota. Jika sedang berhemat, saya akan memintanya memilih Paket 1 Mbps, paket pilihan yang bisa bikin aman dan nyaman dan dapat dibeli melalui aplikasi by.U.

Semuanya Samaunya

Menghadapi anak remaja itu gampang-gampang susah. Dalam mendidiknya harus seperti main layangan. Sesekali dilepas tetapi masih terkendali. Lain halnya dengan by.U. Ia bisa memberikan #SemuanyaSemaunya dengan sangat terkendali.

Share This:
Diary

Berjalan Kaki di Terik Jakarta? Siapa takut!

Ada kalanya, sering bahkan, apa yang terjadi di luar harapan kita, biasanya mendadak dan tidak direncanakan. Jika dalam posisi itu, kita tentu saja tidak bisa lari, tak bisa menghindar, dan harus tetap dihadapi serta dijalani.

Sejak hp hilang beberapa waktu lalu, saya memakai hp lama yang kondisinya harus “disayang” banget. Anak saya selalu mengingatkan “Mama, nge charge hp ini jangan dibawah 60%, klo ga, ga bakalan bisa nyala”. Saya sudah menjalankan protokol itu, setiap sudah 60% atau 70%, saya charge dan aman. Tadi juga sama, begitu 60% langsung saya charge.

Pagi tadi, jadwal saya sosialisasi di salah satu RW di Pondok Labu yang berada di kawasan TNI AL. Sampai sana, hp masih terkendali meski sudah nyantol ke power bank. Harapannya setelah berdiskusi dan tim bergerak, hp sudah terisi penuh dan saya bisa kembali ke kantor di Antasari dengan aman dan cepat menggunakan ojol. Ndilalah, setelah kegiatan usai, daya hp bukannya nambah malah melorot turun dan turun. Saya coba nyalakan, bisa hidup, tapi begitu buka aplikasi, hp nya kedip-kedip dan blip, mati. Mulai panik. Tapi berusaha sejaim mungkin sambil berpikir keras, secara ga ada angkutan umum lewat dan jalan keluar komplek lumayan panjang. Untungnya salah satu tim bergerak ke RW lain. Sementara, kondisi oke, saya bisa ikut sampai jalan raya. Saya buying time dengan makan soto dulu -kebetulan juga belum sarapan-. Perut kenyang, lumayan otak bisa diajak berpikir lagi. Sebelum nyalakan hp, saya masuk mini market beli sesuatu biar ga terlalu malu numpang duduk di terasnya. Bismillah, hp saya coba nyalakan. Baru 17%. Begitu buka aplikasi ojol, lagi-lagi blip, mati. Haduh! Sebelum kebingungan merajai, saya melihat bus Transjakarta jurusan Pondok Labu – Lebak Bulus berhenti tepat depan mini market. Tanpa berpikir lagi, saya langsung naik dan duduk manis. Hp saya simpan di tas, semoga sampai perempatan Fatmawati sudah cukup terisi baterainya. Saya turun di pinggir jalan Fatmawati tepat di bawah tanda “Bus stop Transjakarta”. Untuk kesekian kalinya saya coba lagi nyalakan hp. Tetap tak bekerja. Saat itu, pilihannya cuma dua, nunggu tanpa berkegiatan hingga baterai terisi setidaknya 50% dan itu butuh waktu sekitar satu jam, atau jalan kaki sampai kantor, waktu yang dibutuhkan tidak banyak, dan hp bisa segera dicharge ke listrik langsung tanpa harus menggunakan power bank.

Menimbang efisiensi waktu, saya pilih opsi ke-2. Sebetulnya berjalan kaki menjadi kegiatan yang sangat lumrah dilakukan. Di luar negeri apalagi, setiap pagi, akan lebih banyak dijumpai orang-orang pejalan kaki dibanding macetnya jalan raya karena kendaraan. Tapi di Jakarta, dengan udara yang luar biasa dan polusi dimana-mana, jalan kaki tidak selalu bisa jadi pilihan kecuali kepepet, seperti saya tadi.

Bersyukur semesta mendukung, dengan mendung yang memayungi, saya bisa berjalan kaki dengan sangat nyaman. Saya menikmati setiap langkah yang diayun. Seketika saya membayangkan ketika suatu saat berjalan dari Hotel Renaissance 999 9th St NW, Washington, DC 20001 menuju American Red Cross 430 17th St NW, Washington, DC 20006 yang jaraknya lebih dari 1,5 km setiap pagi dan sore hari. Di sana, trotoar yang luas sangat memanjakan para pejalan kaki tanpa harus mendengar deru kendaraan dan bunyi klakson yang bersahutan. Sepanjang jalan dapat melihat gedung-gedung kontemporer yang megah. Melewati National Mall, mata tak bosan disuguhi bangunan-bangunan dengan arsitektur yang menawan, seperti White House, Washington Monument, dan United States Capitol dengan udara yang segar, dingin-dingin sejuk.

Jalanan lengang di pagi hari

Hmmm, ya. Di jalur yang saya jejaki inipun, di Jakarta, Ibukota negara tercinta, trotoar sudah dibuat dengan lebar dan ramah untuk pejalan kaki. Sayang saya tidak bisa mendokumentasikan melalui gambar, karena hp nya mati. Saya bisa mencermati sekeliling jalur Perempatan Fatmawati – Antasari. Gedung-gedung mentereng nan modern juga terpampang nyata di kanan kiri jalan. Di sebelah kiri, saya melewati beberapa gedung menjulang. Setelah lewat lampu merah Fatmawati, terlihat Bank Capital yang berada di pojok jalan, setelahnya melewati Halte Fatmawati, sebelahnya lagi ada gedung D’Brasco, The CEO Building, juga gedung Graha Sapta Indra. Berjalan menjauh ketemu Cilandak Town Square (Citos) yang sepanjang trotaoarnya akan mudah ditemukan penjual kopi keliling, beberapa driver ojol dan taksi telihat sedang beristirahat sembari menunggu notifikasi orderan. Ibis Style berdiri megah tepat di sebelah Citos, setelahnya telihat tower Midtown Residence yang berdampingan dengan Talavera Office Park.

Di seberang jalan menjulang gedung JGC, terlihat juga CIBIS park. Sambil mengayunkan langkah saya bisa memandangi kendaraan yang lalu lalang, dari mulai taksi, ojol, busway, angkot, mobil dengan berbagai brand, mulai dari brand sejuta umat hingga mobil keluaran baru yang high end. Semakin bergerak, tak terasa saya mulai berbelok ke arah Jl. Antasari, menyusuri trotoar yang melingkari gedung Alamanda. Di kejauhan terlihat bersahaja gedung 165 tower, Ratu Prabu 2 dan juga gedung Elnusa. Yeay! Itu artinya, kantor saya sudah berjarak sekitar 200 meter lagi di depan, di tanjakan sebelum jembatan penyeberangan orang (jpo) sana. Gerimis mulai menggoda, tetapi tak lama. Baru saja mengeluarkan payung, ia mereda. Tepat 20 menit, sayapun sampai kantor dengan selamat. Bisa menaklukan jarak lebih dari satu kilo jalanan Jakarta. Selamat badan, selamat uang. Bisa hemat 15ribu. Alhamdulillah. Percayalah! Selalu ada blessing in disguised dalam setiap kejadian yang tidak kita inginkan.

Jika diingat ingat, ini adalah jalan kaki terjauh saya selama di Jakarta. Sebelumnya hanya berjarak Balai Kota – Stasiun Gondangdia, atau dari Jl. Bhineka Raya – Jl. Biru Laut. Tapi klo urusan jalan, memang selalu menyenangkan. Perjalanan paling berkesan terjadi belasan tahun yang lalu saat saya hiking dari Dago Pakar hingga Maribaya bersama teman sekos. Itu asli, seru pakai banget. Klo diajak lari saya menyerah -apalagi klo lari dari kenyatan-. Tapi klo diajak jalan apalagi jalan-jalan, siapa takut! Yuk! Ah! Kita come on!

Berjalanlah terus ke depan hingga sampai ke tujuan
Share This: