Ngetrip Asyik

Catatan dan dokumentasi setiap perjalanan yang dilakukan

Ngetrip Asyik

SAYANG KAAK

Bagi warga Ciamis dan sekitarnya, wisata Sayang Kaak sudah tidak asing lagi. Tempat piknik yang satu ini sudah menjadi favorit sepanjang tahun 2020.

Kawasan wisata yang terletak di Dusun Cikatomas Desa Handapherang Kec. Cijeungjing Kab. Ciamis sebelah selatan Provinsi Jawa Barat ini menawarkan beberapa spot foto yang instragramable. Foto² yang saya post ini adalah spot foto yang tidak berbayar alias gratis.

Lokasinya yang berada di atas bukit memungkinkan mata untuk dapat melihat indahnya kelok Sungai Cintanduy dari kejauhan. Jika cuaca cerah, kita akan mendapatkan gumpalan awan putih dan langit biru yang sangat menawan. .Selain spot berfoto, Sayang Kaak menyediakan juga arena flying fox anak². Cukup dengan bayar 10rb/orang.

Bagi keluarga yang suka berpetualang, bisa juga mencoba jip off road. Biayanya lumayan merogoh dompet lebih dalam klo menurut saya. Kita harus bayar 350rb/mobil sudah termasuk supir. Harga tiket masuk Sayang Kaak 10rb/orang dengan uang parkir 5rb/kendaraan. Dekat area parkir terdapat pelataran berbatu yang bisa digunakan untuk duduk² gelar tikar sambil menikmati segarnya kelapa muda dan semilir angin.

Sayang Kaak bisa dijadikan sebagai alternatif wisata alam tanpa khawatir terjebak kerumunan. Meskipun dari segi harga, cukup mahal jika ingin masuk spot foto berbayar sebesar 15rb/orang. Belum lagi tebus foto digital 2rb/foto yang hasil fotonya tidak lebih bagus dari jepretan kamera ponsel. Namun demikian, cukup worth it untuk bisa dapat panorama cantik dari atas perbukitan. .

Kenapa ya, disebut “Sayang Kaak”? Saya akan cerita dipostingan setelah ini. Don’t miss it 😍😍😍

Share This:
Ngetrip Asyik

PERMADANI TERBANG SAYANG KAAK

Dalam bahasa Sunda, sayang berarti sarang. Kaak merupakan nama burung yang menurut sumber yang saya baca, bunyinya “Kaak…kaak…kaak” sehingga dinamakan Burung Kaak. Burung ini biasanya bersarang (Sarang burung Kaak terbuat dari ranting² pohon) di pohon-pohon yang berada di atas bukit paling tinggi.

Konon, di kawasan Sayang Kaak saat ini, pada jaman dahulu banyak ditemukan burung Kaak, jadi penamaan wilayah tersebut sudah lama dinamakan “Sayang Kaak”, kemudian oleh pengelola wisata “Sayang Kaak” dipakai sebagai nama objek wisata yang sekarang dikenal luas.. Foto² di postingan ini merupakan spot foto iconic di Sayang Kaak. Permadani Terbang namanya. Foto 1-4 hasil jepretan kamera ponsel. 5-9 hasil jepretan kamera DLSR milik pengelola. Di spot ini, kita harus bayar 15rb/orang.

Meski hanya menggunakan tali pengaman satu lapis di pinggang, karpet terbang ini cukup aman dinaiki. Walaupun saat digerek terdengar berderik seperti mau lepas besinya hahaha 😄. Kita akan diarahkan untuk berpose sama fotografer pengelola ketika berada si tengah² wahana. Susah ternyata jadi model 🤓.

Untuk yang suka foto kayak saya, wajib sih ambil beberapa pose di sini. Satu spot berbayar lagi yaitu jembatan kaca. Lokasinya berdekatan dengan spot Kupu-kupu. Saya tidak sempat berfoto di sana karena antriannya lumayan panjang. . Piknik asyik tanpa panik, cukup pergi ke Ciamis. Yuk! Mari 😍😍😍

Share This:
Ngetrip Asyik

KAMPUNG TERATAI

Satu lagi destinasi wisata baru di Kab. Ciamis yang sayang untuk dilewatkan. Kampung Teratai namanya. Lokasinya berada di Jalan Bojong Salawe Kecamatan Cimaragas, Kabupaten Ciamis.

Rupanya tulisan itu sekedar slogan saja, kenyataannya kendaraan memenuhi lapangan parkir yang tidak cukup luas untuk dapat menampung pengunjung. Sebagian harus parkir di pinggir jalan. Tiket masuk ke sana sebesar 5rb/orang ditambah biaya parkir 5rb untuk mobil dan 2rb untuk motor. Setelahnya kita bisa ambil foto sepuasnya di setiap spot dengan gratis.🎋

Untuk sampai di tempat ini, hanya membutuhkan waktu kurang lebih 30 menit dari pusat Kota. Begitu tiba di sana, saya mendapati spanduk yang bertuliskan “Kawasan ditutup tanggal 5-31 Desember 2020 karena sedang dalam pengembangan”.

Untuk masuk area Kampung Teratai kita harus berjalan sekitar 50 meter melewati pematang yang sudah disulap menjadi beton dan anyaman bambu warna warni. Kanan kiri diapit sawah dan kolam. Ucapan “Selamat datang di Kampung Teratai” bisa kita temui di dinding kolam terbesar yang ada di sana. Menuju saung² yang tempatnya ada di atas bukit, kita akan menjumpai dua kolam yang ditumbuhi Bunga Teratai. Satu kolam dengan Gazebo di atasnya, kita bisa melihat banyak ikan mas di sana.

Satu kolam lagi terdapat perahu dari bambu yang dipenuhi ornamen lampion juga payung geulis sebagai properti berfoto. Untuk mencapai perahu kita harus melewati beberapa pijakan seperti di Benteng Takeshi. Yang suka air, bisa main sepeda air. Cukup bayar 5rb untuk 3x putaran, kita sudah bisa puas bersepeda. Sayang, bukan sepeda air yang berbentuk angsa, jadi untuk balita tidak disarankan menaikinya. Gantinya ada ayunan yang bisa digunakan untuk si kecil. Untuk spot foto, ada lorong payung geulis yang dibiarkan bergantung atau lorong dengan lampion dan payung warna merah menyala.

🎋Jika ditata dan dikelola dengan baik, serta tiketnya tidak jadi mahal, Kampung Teratai bisa menjadi salah satu andalan pariwisata Kabupaten Ciamis.

Selain tiket masuk yang affordable, lokasinya juga sangat strategis.

Share This:
Ngetrip Asyik

FAMILY TRIP

“Nothing is better than going home to family and eating good food and relaxing.” – Irina Shayk

🌺 Bahagia karena bersyukur dan bersyukur agar selalu bahagia. Salah satunya dengan berkelana bersama keluarga. Akhir tahun menjadi jadwal wajib berkumpul selain Lebaran. Kami saling menertawakan satu sama lain, bercengkrama tanpa sekat, kadang berdebat hal temeh. Namun ada nasihat terselip diantara canda. Seperti baterai yang terecharge, setelahnya memantik semangat yang sempat habis.

🌺 Keluarga menjadi satu-satunya tempat pulang yang selalu bisa menambah nafsu makan dan membuat pikiran menjadi tenang. Bagaimanapun keadaannya.

Share This:
Ngetrip Asyik

Dieng, Antara Keindahan Alam dan Sepenggal Cerita Nostalgia

Dieng sebagai kawasan wisata baru tertata dan terkenal beberapa tahun belakangan ini, tetapi sejak saya kecil, kata Dieng sudah akrab di telinga. Ayah saya pertama kali diangkat sebagai PNS di Wonosobo sekitar pertengahan dekade 70 hingga awal 80an. Bagi ayah, Dieng adalah kota kenangan.

Ayah dan Ibu saya seringkali bercerita tentang keindahan alam Dieng, tentang cuacanya yang dingin, tentang kentang Dieng, tentang anak gimbal Dusun Tengger, dan tentang keramahtamahan masyarakat di sana. Konon, di Dieng juga Ayah dan Ibu saya berbulan madu. Saya kecil pernah juga dibawa ke Dieng katanya, tetapi karena masih berumur 2 tahunan, saya tidak bisa menyimpannya di ingatan.

Cerita tentang cantiknya Dieng membuat saya ingin sekali berkunjung ke sana. Sudah lama sekali ingin merasakan sejuknya hawa pegunungan selain di Puncak, Jawa Barat. Wacana pun bergulir, kesempatan itu belum kunjung tiba. Ayah saya ingin, kunjungan ke Dieng tidak hanya untuk berwisata, melainkan memanjangkan silaturahmi ke tempat kos Ayah dulu. Dan saya pun setuju. Kami akan berangkat ke sana dengan anggota keluarga lengkap. Karena kami semua bekerja, menyamakan waktu libur bukanlah hal yang mudah. Dan lebih daripada itu, sebaik apapun kita berencana, jika tanpa ijin Tuhan, semua ingin tidak akan berjalan.

Namun jangan pernah anggap remeh sebuah harap. Perkataan adalah do’a, topik tentang Wonosobo dan Dieng yang sering muncul di setiap obrolan kami, seperti the power of repetition. Selalu dan selalu diulang. Pada saat yang tepat, tibalah juga kesempatan itu.

26 Desember 2015, dengan waktu sedikit yang kami punya, akhirnya kami bisa berkunjung ke desa tertinggi di Pulau Jawa itu. Kami menggunakan kendaraan pribadi dari Ciamis. Rute perjalanan Ciamis – Wonosobo menjadi sangat mudah untuk Ayah yang 30 tahun lebih menjelajah kota-kota di Jawa Tengah termasuk Wonosobo. Jadi kami tidak perlu guide untuk bisa sampai ke sana dengan nyaman.

Kami memulai perjalanan sekitar pukul 11.00 siang. Waktu tempuh Ciamis – Wonosobo kurang lebih 6 jam. Melintasi satu kota dan empat kabupaten sebelum bisa sampai ke kabupaten Wonosobo. Tidak membosankan tentu saja, karena di setiap kota yang dilewati selalu ada cerita yang mengiringi.

Wonosobo, Dieng, dan Carica

Jika kebetulan musim durian, sebelum tiba di Wonosobo kita bisa mampir di Sigaluh. Ada banyak penjual durian di sana. Tinggal pilih makan di tempat atau bawa pulang. Para petani yang akan kulakan durian bisa kita jumpai di sepanjang jalan menggunakan keranjang di motornya. Mungkin saja akan dapat harga lebih murah membeli langsung dari mereka. Jika sudah dijual pelapak di pinggir jalan, harganya pun beragam, tergantung besar kecil durian dan hasil tawar menawar. Waktu itu kami dikasih harga 50 ribu untuk satu buah durian yang lumayan besar.

Menikmati durian di Sigaluh
Tempat yang khusus disediakan untuk makan durian

Tidak perlu khawatir kelaparan jika sampai Wonosobo malam hari. Karena di sepanjang Jl. Ahmad Yani banyak ditemui warung tenda yang menyediakan makanan khas Wonosobo, sebut saja mi ongklok, mi kuah khas Wonosobo yang dibuat dengan bumbu khusus yang berisi kol, potongan daun kucai, dan kuah kental yang disebut loh. Ada juga tempe kemul, yaitu tempe yang diselimuti tepung, seperti mendoan yang digoreng lebih kering, dan potongannya sekitar 3×3 cm.

Wajib dicoba juga bebek rica-rica. Olahan bebek pedas yang dipotong keci-kecil. Selain rasanya yang lezat, daging bebeknya pun empuk. Makanan lainnya sama seperti warung tenda di tempat lainnya, mulai dari pecel ayam, pecel lele, dan soto pun tersedia. Begitu kenyang, tidurpun pasti akan nyenyak dan keesokan harinya badan akan terasa bugar dan siap untuk pendakian Dieng.

Bebek rica-rica Wonosobo yang lezat

Sebagai oleh-oleh khas, manisan Carica berada di urutan pertama. Carica merupakan buah yang pohon dan daunnya mirip pohon pepaya, bahkan buahnnya pun serupa pepaya muda yang masih kecil berwarna hijau. Pohonnya banyak ditemukan di hampir semua tempat di sekitar Dieng. Sebelum menjadi tanaman budidaya, buah Carica hanya menjadi makanan tupai, tidak ada yang mengkonsumsi, sampai akhirnya ada yang melakukan terobosan mengolah carica menjadi berbagai jenis makanan lezat. Mulai dari manisan, hingga sirup. Rasanya yang asem manis, cocok dimakan di waktu siang hari nan terik. Carica bisa ditemui dengan mudah di sepanjang jalan menuju Dieng, atau di pusat oleh-oleh yang ada di depan tugu selamat datang Dieng.

Carica Dieng

Selain Carica, komoditas lainnya  yang dihasilkan dari Wonosobo adalah salak pondoh dan madu. Selain tentu saja sayur mayur.

Salak Pondoh

Kawasan Wisata Lembah Dieng

Jalanan mulai menanjak ketika kami memasuki gapura kawasan wisata Lembah Dieng. Tiba di sana, kami harus membayar retribusi sebesar 2000 rupiah per orang. Sangat terjangkau untuk menikmati mewahnya lukisan Illahi sehebat itu.

Tugu Selamat Datang Dieng

Sebelum masuk Desa Dieng, kita akan melewati Dusun Tieng yang pernah dilanda banjir bandang tahun 2011 lalu. Udara semakin terasa sejuk ketika masuk ke dataran yang lebih tinggi, jalan berkelok memberikan sensasi yang luar biasa. Sisa-sisa sunrise masih bisa kami nikmati diantara lembah berkabut.

Kabut pagi Dieng

Kawasan Dataran Tinggi Dieng merupakan kawasan yang memiliki beberapa objek wisata. Begitu sampai di kawasan, kita akan bertemu lagi gapura dan diharuskan membeli karcis dengan harga 8000 rupiah per orang (sudah termasuk tiket plateau theater).

Gapura Kawasan Dieng Plateau

Dieng Plateau

Tidak jauh dari gerbang masuk kawasan, kita akan melewati Telaga Warna, maju sedikit, ada belokan ke kiri dan akan menemui tanjakan yang curam. Beberapa kendaraan yang tidak kuat naik, diparkir di area yang sudah disediakan di depan pintu masuk Telaga Warna. Sementara itu jika ingin sampai Dieng Plateau Theater harus rela berjalan kaki. Tapi jika kendaraannya kuat, bisa diparkir tepat di depan Dieng Plateau Theater.

Dieng Plateau Theater

Kami tidak masuk theater, kami lebih tertarik naik ke Batu Ratapan Angin. Jalan setapak menanjak mengantar kami ke sana. Nama tempat yang unik. Batu Ratapan Angin ini terdiri dari dua buah batu yang berdiri kokoh. Hembusan angin yang menimbulkan suara berdesis seolah olah suara tangis tertahan seperti ratapan, sehingga disebutlah Batu Ratapan Angin.

Tanjakan menuju Batu Ratapan Angin

Selain dua batu yang bersebelahan, banyak juga terdapat tebing-tebing batu yang sayang jika sampai dilewatkan untuk berfoto. Ada satu tebing batu yang menjulang, di atasnya gagah berkibar bendera merah putih. Meski sudah koyak, semangat nasionalisme serasa terbakar kala menatapnya seolah menggapai awan. Begitu indah.

Siapa berani naik sampai puncak?
Berkibarlah benderaku

Untuk bisa mencapai batu-batu itu, kita akan melewati loket terlebih dulu. Satu orang harus membayar 10 ribu di sini.

Loket Batu Ratapan Angin
Pemandangan saat hari libur

Dari atas, kita bisa melihat Telaga Warna, lukisan alam yang menakjubkan. Diambil dari sisi manapun, hasil foto yang didapat akan tetap cantik. Dari Batu Ratapan Angin, kita pun bisa langsung turun ke Telaga Warna. Tapi kami tidak melakukannya. Kami memilih masuk Telaga Warna dari bawah saja.

Telaga Warna dilihat dari atas
Telaga Warna dari sisi lain
Pemandangan yang indah

Bagi penyuka flying fox, dari Batu Ratapan Angin tersedia flying fox dengan harga 30000 per orang. Tantangan yang sangat memacu adrenalin. Puas mencari view foto di tebing-tebing batu, kita bisa beristirahat di warung-warung yang sudah disediakan untuk bisa menikmati wedges potatos rasa barbeque. Kentang khas Dieng yang sangat legit. Kita bisa juga makan tempe kemul, nasi uduk, pop mie dan lain sebagainya.

Area Flying Fox
Bisa beli kudapan di sini

Mata akan kembali dimanjakan ketika kita bisa melihat Telaga Warna lebih dekat lagi. Masuk melalui loket resmi, kami membeli karcis dengan harga 7500 rupiah per orang. Kita bisa berkeliling melewati pedestrian atau turun lebih dekat lagi ke danau. Selain melihat danau yang berair tenang, telinga juga akan disuguhi lagu-lagu yang merdu, yang dibawakan oleh sekelompok pemain musik jalanan dengan menggunakan angklung dan perkusi. Meriah.

Telaga Warna dari dekat
Suka dimana? Telaga Warna telihat dari jauh atau dari dekat?
Pemain musik jalaanan di Telaga Warna

Tuk Bimo Lukar

Beberapa puluh meter dari kawasan utama dataran tinggi Dieng, kita bisa berhenti sejenak di objek wisata Tuk Bimo Lukar untuk merasakan sejuknya mata air yang diyakini sebagai mata air suci bagi masyarakat Hindu kuno Dieng.

Tuk Bimo Lukar

Tuk sendiri dalam bahasa Jawa artinya mata air. Tuk Bimo Lukar ini merupakan hulu sungai Serayu. Bisa dibayangkan ada kekuatan Maha Dahsyat dari sungai Serayu ini. Di hulunya, di Tuk Bimo Lukar, kita bisa mendapati air yang kecil saja, tetapi makin ke hilir, sungai yang mengalir hingga Cilacap ini memiliki air yang begitu melimpah.

Pancuran Tuk Bimo Lukar

Masuk objek wisata ini gratis, hanya ada kotak amal yang bisa diisi seikhlasnya. Melewati tangga-tangga menurun kurang lebih 20m, kita akan menemui 2 pancuran, yang disimbolkan menyerupai alat kelamin pria dan alat kelamin perempuan. Konon, jika kita membasuh muka dengan mata air ini akan awet muda. Kawasannya cukup terawat dan bersih. Semilir angin menghembuskan bau kemenyan dan bunga yang dipertahankan sebagai tradisi. Bunga-bunga terompet yang memayunginya menambah kesejukan dan keheningan.

Tangga menuju Tuk Bimo Lukar
Bunga Terompet di sekitar Tuk Bimo Lukar

Dieng merupakan simbol harmonisasi antara alam dengan manusianya. Tidak heran jika Dieng disebut sebagai “Negeri Kayangan”, tempat bersemayamnya para Dewa karena kemewahan alamnya. Kearifan lokal yang ada di dalamnya menjadi salah satu bukti bahwa segala kebaikan alam bisa menjadi berkah bagi manusia. Alam yang dijaga akan memberikan kebaikan dan manfaat bagi manusia. Cukuplah pembangunan sebatas memperbaiki fasilitas wisata tanpa harus merubah fungsi. Tidak menjadikan kawasan hutan, pegunungan, dan tanah pertanian menjadi hunian beton yang bisa merusak keseimbangan alam. Jangan ada longsor, banjir atau bencana lain karena tangan-tangan usil yang membuat alam tersentil. Manusia hendaklah tetap menjaga fitrahnya sebagai pemelihara bumi. Segala tradisi harus tetap menjadi ciri bahwa bangsa memiliki jati diri.

Foto: Doc. Pribadi

Share This: