Parenting

Remedial, Hal Baik atau Aib!?

“Accept the children the way we accept trees—with gratitude because they are a blessing—but do not have expectations or desires. You do not expect trees to change; you love them as they are.” 

– Isabel Allende –

“Ma, aa remedial”. Ujar si Sulung setengah bergumam. Nadanya biasa saja. Datar. Saya tanyakan mata pelajaran apa. Bahasa Indonesia ujarnya. Tidak terlalu kaget, dia rupanya sudah menduga sejak Penilaian Tengah Semester (PTS) berlangsung. Susah, ma. Aa ga paham katanya. Hari berikutnya, dia lapor lagi klo ada mata pelajaran yang harus diulang. Kali ini PPKN. Lagi-lagi tidak mengejutkan. Ketika PTS berakhir, dia mengatakan PPKN aa ga ngerti.

Kecewa? Tentu saja. Rasanya setiap orangtua selalu menginginkan anaknya memberikan nilai paripurna untuk setiap mata pelajaran. Termasuk saya. Apalagi, remedial ini baru kali pertama terjadi sejak dia masuk sekolah. Sesuatu yang baru bagi saya dan anak saya. Tapi remedial bukanlah akhir dari segalanya. Bukan aib atau hal yang memalukan. Setiap kejadian akan menjadi sebuah kebaikan jika kita menanggapinya dengan bijak.

Setelah menerima Laporan Perkembangan Siswa (LPS) saya gemas melihat nilai PPKN dan bahasa Indonesia yang memang di bawah KKM, dan terlonjak ketika melihat nilai matematika yang sempurna, dua bahasa asing dan PAI yang juga nyaris sempurna. Belum lagi dengan minatnya yang lain. Lalu apakah saya masih harus menuntut lebih darinya? Padahal saya juga tidak pernah sempurna. Nilai-nilai saya sekolah biasa-biasa saja. Orangtua saya sangat bebas. Belajar harus, tapi perkara hasil itu urusan lain. Maka itu juga yang coba saya terapkan dalam mendidik anak-anak saya.

Remedial Itu Baik

Remedial adalah perbaikan atau mengulang. Biasanya ditujukan untuk siswa yang memiliki nilai rendah atau di bawah yang diharapkan. Namun, jika kita melihat lebih luas, remedial bisa kita terapkan dalam sisi kehidupan yang lain. Remedial merupakan salah satu bentuk kegagalan yang harus disikapi dengan pikiran yang terbuka agar memperoleh hasil yang lebih baik. Bagi saya, remedial ini bagus untuk perkembangan dan  pembelajaran. Ada beberapa hal positif yang bisa kita ambil ketika kita dihadapkan dalam sebuah remedial:

  1. Ketika terpaksa harus melakukan ujian/tes ulang, mau tidak mau harus kembali mempelajari materi. Semakin sering dan semakin banyak mempelajari materi, maka akan semakin baik pemahamannya dan kemungkinan untuk memperoleh nilai lebih tinggi juga lebih besar.
  2. Mendapat kesempatan untuk mengevaluasi cara belajar yang efektif. Jika sebelumnya cukup hanya dengan membaca, karena ada remedial, harus ditambah merangkum materi misalnya, bikin games, dan lain sebagainya.
  3. Dengan remedial, bisa mengetahui kesalahan yang dilakukan sehingga bisa lebih waspada, lebih bekerja keras.
  4. Bisa lebih menghargai, baik menghargai waktu, guru, ataupun mata pelajaran. Karena tidak ada hal yang sulit jika mau belajar dengan lebih tekun.
  5. Menjadi pelajaran hidup. Bahwa dalam hidup akan ada hal-hal yang tidak sesuai dengan keinginan kita, tetapi kita harus dapat menerimanya dengan lapang dada.
  6. Belajar bertanggungjawab, bahwa akan selalu ada konsekuensi dari setiap apa yang dilakukan. Karena usaha tidak akan pernah menghianati hasil. Sedikit usahamu, jangan berharap besar hasilnya, begitu pula sebaliknya.

Cara Menyikapi Anak yang Remedial

Hal yang penting dilakukan ketika dapat laporan dari anak bahwa dia remedial adalah bersikap setenang mungkin dan tidak bereaksi berlebihan tidak menyalahkan atau menyudutkan anak sehingga membuat anak terluka. Dengarkan apa yang ingin disampaikannya sebelum kita bertanya kenapa bisa remedial. Setelah kondisi aman, baru kita lakukan beberapa evaluasi seperti berikut ini:

  1. Bertanya pada anak, kenapa bisa remedial.  Biarkan anak belajar menganalisis dan mengevaluasi apa yang sudah dialaminya. Sehingga dia tahu why nya. Dengan begitu, akan lebih mudah untuk mencari solusi perbaikannya seperti apa.
  2. Mendengarkan keluhannya. Baik dari sisi teknis maupun non teknis.
  3. Diskusi dengan gurunya. Sampaikan kondisinya, dan berikan masukan dan saran dengan cara yang baik jika diperlukan.
  4. Merubah pola belajar anak. Diskusikan dengan anak cara belajar seperti apa yang paling nyaman dilakukan.
  5. Menjaga kepercayaan dirinya jangan sampai meluncur bebas, dengan tetap memberi apresiasi sekecil apapun usaha anak

Setiap Anak Adalah Istimewa

Kita melihat dan mencintai anak kita tanpa syarat. Artinya, kitapun harus dapat melihat anak secara keseluruhan, lahir batin. Dan, kita tidak bisa menjadikan anak kita sepenuhnya seperti apa yang kita mau, karena mereka memiliki catatan hidupnya sendiri. Kita hanya bisa sebagai peta petunjuk arah agar mereka tidak tersesat.

Begitupun dengan kecerdasan dan kepandaian. Setiap anak memiliki kelebihannya sendiri. Ada yang pintar bawaan lahir, tanpa perlu bekerja keras belajar, cukup menyimak penjelasan guru/dosen langsung paham dan ingat sepanjang masa. Ada yang harus distimulasi terlebih dulu. Perlu review satu dua kali sebelum jelas. Ada juga yang memerlukan catatan panjang yang rapi, butuh belajar yang terus menerus, lagi dan lagi sampai bisa. Ada yang top di semua mata pelajaran akademik, ada yang menonjol di beberapa mata pelajaran saja, ada yang keren di bidang olahraga, ada yang sungguh hebat di bidang seni, ada yang luar biasa di bidang keagamaan, ada yang bikin kagum karena sikap santun dan keramahannya, dan lain sebagainya. Jika ditulis satu persatu, rasanya tidak ada anak yang tidak istimewa. Setiap darinya diberikan kekhasan tersendiri.

Yang kita tahu saja, kecerdasan itu terdiri dari beberapa macam, diantaranya:

IQ (Intelligence quotient)

IQ ini yang seringkali menjadi ukuran kepandaian seseorang, padahal ada lagi kecerdasan-kecerdasan lainnya yang tidak bisa kita anggap sebagai hal kecil.

EQ (Emotional Quotient)

Dengan EQ yang baik, seseorang akan mampu menanggapi dan mengendalikan emosi yang  hadir pada dirinya.

SQ (Spiritual Quotient)

Seseorang yang memiliki kecerdasan SQ yang baik akan bisa menerima setiap kejadian yang menimpa dirinya dengan hati yang lapang. Dapat melihat sebuah permasalahan dari sisi positif, dan memiliki keyakinan bahwa setiap kejadian akan selalu ada kebaikan yang mengikutinya.

AQ (Adversitas Quotient)

AQ merupakan kemampuan bertahan hidup. Kuat menghadapi tantangan, dan tidak pantang menyerah. Ada 3 (tiga) jenis kecerdasan AQ, yang terdiri dari Quiters,  yaitu orang yang suka lari dari masalah. Kemudian Campers, yaitu orang yang cepat merasa puas. Dan yang ketiga adalah Climbers. Orang-orang dengan tipe AQ Climbers memiliki keinginan untuk terus maju meskipun berada dalam tekanan.

TQ (Trancendental Quotient)

Kecerdasan TQ merupakan kecerdasan yang didasarkan pada agama dan kepercayaan kepada Tuhan. Dengan kecerdasan ini, orang dapat memahami hakikat tentang kehidupan di dunia dan kehidupan setelah kematian. Kecerdasan TQ bisa dilihat dari cara beribadah atau mempelajari kitab suci serta pengamalannya dalam kehidupan sehari-hari.

Dari kelima macam kecerdasan di atas, kita bisa mengambil kesimpulan, Tuhan telah memberi kesempurnaan kepada anak-anak kita sebagai makhluk yang utuh, dianugerahi akal untuk berpikir, dan diberi hati untuk merasakan. Tugas kitalah sebagai orangtua untuk mampu membentuknya sebagai manusia yang bisa bermanfaat dan dapat menebar kebaikan di muka bumi sehingga mendapatkan kebahagiaan hidup di dunia dan setelahnya.

“I believe the children are our future. Teach them well and let them lead the way. Show them all the beauty they possess inside”

-Whitney Houston-

Share This: